Luvlydini's Blog

Just another WordPress.com weblog

menafsir desir

desir itu perlahan, terjadi seiring tiupan angin terhadap ombak

sperti jejak pada gundukan pasir yang hilang tersapu angin, kembali bercagak kala diinjak

angin itu yang menghembuskan

sebuah alun bernama rindu

yang lirih bernyanyi dalam denting hati

sketsa yang bertirai dalam ruang kelabu

abu, biru jingga…

bila ku mampu akan kujaga berwarna ungu

dan kembali pada matahariku

menggantikan pelangi

lalu… hening

diamku…rinduku…pintaku… 

diamku, hingga purnama tersenyum…

 

merah darahku putih tulangku, pH nya berapa? ^^

by Dini Fitriastuti on Saturday, March 17, 2012 at 10:03pm ·

Hmm… kali ini dini ingin bertanya, tapi baiklah, sebelum bertanya dini akan bercerita. Jadi begini ceritanya, kemarin malam, dini sampai di rumah menemukan botol kemasan air mineral, setelah diperhatikan ada tulisan :

 

Air minum kesehatan pH > 8

 

manfaat :

1. menjaga stamina

2. mengaktifkan sel-sel tubuh

3. membantu proses penyembuhan penyakit

4. meringankan kerja ginjal

5. meningkatkan pH darah

 

lengkap dengan logo halal, no reg BPOM dengan kode MD dan nama perusahaan.

 

Pertanyaannya yang terlintas saat pertama lihat air itu adalah,

 

kenapa air harus dibuat basa dan kenapa air basa dikatakan memiliki manfaat demikian?

bagaimana pH air yang basa bisa mengaktifkan sel-sel tubuh dan meringankan kerja ginjal? mekanismenya gimana?

bukannya pH darah normalnya 7,4 yah? lalu kenapa harus dibuat basa?

memangnya air bisa membuat pH darah jadi basa?

bukannya dalam darah ada mekanisme buffer? yang menjaga kestabilan pH darah itu ginjal kan yah?

bukannya ada istilah alkalidosis dan asidosis yah? itu bukan penyakitkan, tapi gejala dari suatu penyakit… lalu kenapa air itu harus dibuat pH > 8? Rasa air itu gimana yah (ditemukan dalam kondisi kosong), mirip sabun ngga yah?? hehehe

 

label di botol itu dibaca berulang-ulang,berharap dari tulisan itu muncul penjelasan lebih…. kemudian berlari menuju mbah  google… hmmm, jadi begitu maksudnya mereka… *posisi jari berada di bibir, lalu berpikir apakah memang perlu demikian??*

 

Jika ada penjelasan tentang itu semua, mungkin hal yang dianggap aneh itu ternyata benar, dianggap aneh karena baru sedikit yang mengetahui kebenarannya…. , bisa jadi kan…

 

*mohon para rekan sejawat dini dibantu diberi pencerahan* :D

kali ini tentang rokok (lagi)

by Dini Fitriastuti on Saturday, March 17, 2012 at 8:52am ·

Cerita ini berawal semalam, ketika menaiki bis dan bis berhenti di Pasarbo, seorang pedagang masuk menawarkan rokok kesahatan katanya, hmmm… ini bukan iklan tapi saya akan coba deskripsikan,

 

Rokok tersebut tak perlu api untuk dibakar,

akan berasap jika dipasang pada filter kemudian dihisap

Jika asapnya habis maka rokok tersebut perlu di-charge

ada 7 pilhan filter yang akan mempengaruhi rasa,

tidak berabu, asapnya tidak berbahaya karena tidak ada tembakau dalam rokok tersebut

itu rokok listrik

 

Kira-kira itulah deskripsi pedagang rokok tersebut, kemudian membuatku berpikir,

 

Jika itu tanpa tembakau, entah teknologinya apa yang membuat itu bisa seperti itu, Jika itu adalah aman dan tidak merusak, lalu bagaimana dengan sikapku #jangan curiga dulu, tak ada maksud dini untuk mencoba….. dengarkan dini bercerita…

 

Dari kecil, dini tak suka dengan benda bernama rokok, uwak, om atau siapapun yang ada di rumah dan memiliki rokok, entah sudah berapa banyak korban yang rokoknya dini sembunyikan. Jangan coba-coba merokok dalam rumah kecuali siap menerima resikonya…

 

Setelah dewasa, benda itu sangat dini benci, bahkan pernah terucap, “syarat untuk menjadi suami dini adalah bukan perokok”, bahkan ketika dini bukan tipe orang yang menentukan suatu kriteria spesifik, tetapi syarat tentang rokok disebutkan… Apa yang dini tak suka? rokok jawab dini dengan yakin.. Bagi dini, merokok itu tidak bertanggung jawab atas dirinya…Mengambil resiko untuk merusak diri dengan segala fakta yang ada.. Lantas bagaimana akan bertanggung jawab terhadap yang menjadi tanggungannya?? Ahh… tak ingin mengeneralisir, dini tahu banyak sekali teman dini yang perokok tapi baik hati dan suka menolong dini… tapi untuk masalah ini biarlah dini berpendapat demikian.

 

Lantas akibat pedagang rokok di bis, dini kemudian melamun,, jika bentuk kebencian terhadap benda itu atas dasar sifatnya yang merusak, lantas jika benar apa yang dikatakan pedagang tersebut apakah akan mengubah penilain din tentang rokok dan syarat tentang bukan perokok

 

*efek bis itu bermacam-macam ternyata*

tentang dia, eksekutor

by Dini Fitriastuti on Saturday, March 17, 2012 at 8:18am ·

Ruang perpustakaan itu tampak seperti ruang eksekusi bagi mereka. Anak muda yang baru saja dilepas tempatnya bersekolah untuk praktek kerja. Beruntunglah untuk mereka yang berteman lebih dari 2, karena konsentrasi dia akan lebih terbagi.

 

Mereka, duduk manis di meja perpustakaan antara rak-rak yang berderet, tampak AHFS, farmakope berbagai negara, ensiklopedi, buku-buku lainnya, yang kadang beberapa orang mengatakan buku itu bukan untuk bahan bacaan, tapi untuk dikagumi ketebalannya….

 

Dia melangkah masuk, berjalan tenang, mengambil posisi diantara mereka, mengajak berkenalan, duduk, memperkenalkan diri. Meskipun mereka selalu silih berganti setiap periodenya, tapi perkenalannya selalu sama. “Saya formulator disini, diminta untuk menjelaskan alur product development. PKL di bagian apa? Berapa lama kalian disini?”

 

Penting bagi dia untuk mengetahui PKL di bagian apa, dan berapa lama mereka disitu. Untuk menentukan seberapa cepat dan seberapa banyak materi diberikan. Ada yang hanya beberapa jam, 3 hari, sepekan hingga sebulan. Semakin lama semakin barbahagialah dia… Dia, menjelaskan alur, membuka sesi tanya jawab yang kemudian mengajak mereka berdiskusi, pertanyaan favoritnya pada sesi pembuka :

 

“apa yang kalian ketahui tentang uji disolusi terbanding?”

“bisa ceritakan IVIVC?”

“Mengapa accelerated test bisa untuk menentukan tanggal kadaluarsa”

“tolong baca guidline ICH untuk stability study”

“perbedaan BA dan BE apa?”

 

tak pernah menyalahkan, tapi jika jawabannya kelewat salah selalu bilang “kalian cari tentang itu, besok pagi kita diskusi” atau jika dia akan solat, seolah tak ingin membiarkan mereka berdiam. Selalu ada tugas, misal : “coba kalian cari bentuk sediaan yang menarik untuk kalian, boleh dari buku atau internet, saya tinggal sholat dulu, stelah solat nanti kalian jelaskan semampu kalian. Jika bisa terkait metode pembuatan dan cara pelepasan.”

 

pernah pada suatu periode, 2 anak yang masuk itu anak yang baik sekali. santun dan cerdas. entah mungkin karena grogi ketika ditanya “skripsinya tentang apa?”, jawabnya singkat “validasi”

dia lanjut bertanya , “validasi apa? metode atau instrumen?”

jawabnya singkat “metode”

dia mengejar, “validasi metode itu banyak, validasi metode pada apa?”

jawabnya, “sediaan tablet amodiaquine”

 

dia tak tahan untuk tersenyum, gemas, kemudian berujar, ” jika ditanya, jelaskanlah… anggaplah yang bertanya memang orang yang tak mengerti jadi perlu penjelasan. saya kan ngga bisa baca apa yang ada dalam pikiran kalian…”

 

sore berdiskusi, memberikan PR untuk dicari, dan berkata “besok pagi kita diskusi”

Jika mereka beruntung praktek dibagian itu akan terbiasa dengan kalimat,

“oke, pagi ini cukup, silahkan bekerja. Siapkan pertanyaan untuk kita diskusi nanti sore”

“Sore ini sudah cukup, tolong dicari hal-hal yang barusan saya tanyakan, besok pagi kita diskusi.”

 

tak jarang keesokan harinya ada yang pelan-pelan berujar  sambil tertunduk”maaf kak, belum sempat mencari karena bla…bla..bla…”

 

Di hari terakhir testimoni mereka tentang dia, “degdegan waktu pertama ketemu kakak”, “kesannya tegas banget gitu”

 

dia pun tersenyum, “ahh kalian, itu sengaja di seting demikian. dibuat agar kalian serius dan sungguh-sungguh. saya tega ngasih kalian tugas terus, hmm…karena suatu hari nanti ketika kalian bekerja akan seperti itu. Kadang tidak diberikan waktu untuk diam sejenak. Mumpung disini, tanyakan apa yang ingin kalian tanyakan, jika bisa dijawab akan saya jawab, jika tidak, sama seperti kalian, akan saya cari semampunya….”

 

Selalu menyenangkan ketika melihat mereka yang terlihat semakin berkembang dalam sebulan, yang semula selalu tertunduk tak berani menatap ketika ditanya, berbicara patah-patah dan ragu menjadi mulai bisa mengungkapkan pendapat dengan yakin (meski tak selalu benar, tapi patut diapresiasi),  menjawab dengan lebih pasti, mulai menyambungkan logika, teori dan aplikasi yang ada di lapangan… Selalu menyenangkan melihat seseorang berkembang…

 

Hmm.. memposisikan diri sebagai teman berdiskusi dan berupaya memotivasi mereka, mendidik adalah tugas semua yang terdidik… dan bagi dia itu adalah salah satu caranya mendidik,mendidik para calon rekan sejawat, berbagi ide dan idealisme, berharap kelak akan banyak yang terwarnai… semoga saja warna yang cantik….

aku gagah (meski bukan) seorang kapiten

by Dini Fitriastuti on Thursday, March 15, 2012 at 7:03am ·

jadi begini ceritanya, suatu pagi yang cerah di gunung putri, seorang gadis manis sedang merapikan diri di kamarnya, tiba-tiba terdengar sebuh lagu dengan suara keras, lebih mirip seperti acara musik saat hajatan,

 

“aku seorang kapiten/

mempunyai pedang panjang/

kalau berjalan prok-prok prok/

aku seorang kapiten”

 

tiba tiba gadis manis serasa amnesia, perasaan kos dengan kamar di TK itu beberapa tahun lalu, serasa dejavu pagi-pagi dengar lagu anak keras begini… ohhw,,ternyata ada mang odong-odong di depan rumah… (maaf mang, dini ngga naik odong-odong hari ini)

 

ritual gadis tersebut lalu berlanjut, tapi dalam diamnya sambil bercermin merapikan diri, pikirnya melayang, serasa berdialog sendiri, kira-kira beginilah bunyinya..

 

hmm…jaman dulu, anak-anak (laki-laki terutama) diajarkan merasa gagah jika memiliki pedang, menjadi seorang kapiten yang jika berjalan seperti sambil bertepuk tangan… hmm, jangan-jangan itu salah, hingga ketika mereka dewasa banyak kekerasan terjadi sekarang, karena mereka merasa gagah dengan pedang dan itu masuk ke alam bawah sadarnya… tragedi-tragedi yang berbentrokan fisik, berdarah-darah jangan-jangan merupakan efek panjangnya??? ahh tak ingin menyalahkan sebuah lagu, apalagi pencipta lagu… hanya saja, kelak kalau dini punya anak, dini akan ajarkan begini ah,

 

untuk menjadi gagah tak perlu menjadi kapiten dengan pedang yang panjang,,,

tak perlu langkah yang menghentak dan membuat terkesima banyak orang

langkah pasti namun rendah hati pun cukup…

tak perlu senjata yang mengerikan dan berbahaya….

engkau akan tampak gagah jika santun bersikap dan sopan bertutur

akan tampak gagah jika mengalah

akan tampak gagah jika mengakui keslahan dan memperbaiki apa yang salah menjadi benar

tak perlu pedang panjang,

 bahkan lisan bisa menjadi pedang, maka jagalah…

berkata baik atau diam…

jika tak mampu meperbaiki maka jangan merusak

bagi ibu, engkau gagah, jika menghargai kaum ibu…

 

kemudian lihat jam, lamunan terhenti, mengeluarkan motor, melihat sekilas mang odong-odong yang lagunya telah berganti, senyum sedikit lalu pergi….

hari kemarin aneh sekali

by Dini Fitriastuti on Thursday, March 15, 2012 at 6:02am ·

Kilas balik hari kemarin

 

13.05 :absen

jalan di jalur merah, di parkiran berjumpa 2 orang anak teridentifikasi sebagai spv produksi, mereka dadah-dadah dan bilang “mbak mana kollidon?”

*apaan siih, kan dini baru datang ke kantor siang ini*

 

13.25 : cek hasil pelarutan asam amino

hasil jernih, kenapa trial pertama ada rekristalisasi skarang bisa bagus?

*aneh, tapi baguslah..*

 

13.30 : diumumkan briefing 15 menit lagi

*whattt?? kan biasanya pagi. kalo siang-siang briefing pasti ada sesuatu*

 

13.45 : tengah-tengah briefing, staff bahan baku QC kirim vial cantik plus isi dan nomor analisa, tiba-tiba dikasih ke dini

*dini ngga ultah hari ini, hadiah apaan ini?*

 

14.00 : selesai briefing (posisi membelakangi kacaruangan), semua menunjuk ke arah kaca di belakang, saat balik badan, tampak mas tinggi dan mas besar, “cari siapa?dini?” “iya mau cari temen meeting produk bermasalah” -__-’ dan berceritalah mereka sambil ribut antara minta data, liat hasil trial dan makan coklat di meja. Hmmm… manusia bisa salah, tapi tak tepat rasanya menyalahkan mereka, dini tau mereka sudah berusaha sebaik mungkin, bahkan ketika salah mereka mencoba mengevaluasi salahnya agar tak terjadi kedepannya. Karena kalian beritikad baik, okayy… mari kita lakukan bersama memperbaikinya…

 

15.00 : BBM bunyi, isinya din k*******

masuk ke ruang meeting, bla bla bla. Diskusi sana sini, mengeluarkan data, bawa kalkulator, hitung sana hitung sini.  Setelah beres pamit kembali ke ruangan, biarkan yang masih meeting berlanjut saja.

 

17.20 : tamu departemen atas datang, bawa kertas untuk papi. Papi belum datang. menghampiri dan bilang “din, ini harga toll di b**** naik, tolong dihitung HPP nya masih masuk atau ngga. Baiklah…

*sadar padahal login dini ngga bisa ngakses HPP*

 

17.30 : orang QC, produksi, PPIC datang (tumben) ada apaan siih?

“kakak, bukain akses HPP, din mau ngitung login ngga masuk”

“kok bisa ngga dapet akses, sana minta bukain. Sering ngitung begituan”

“mas, harga toll naik”

“coba din hitung, mana yang paling ngaruh ke HPP. Hmm.. kalo gitu yang ini tak tarik ditempatku aja, tapi ngga semua”

“banyak yah turunnya?”

“11 batch per bulan, tempatku bisa deh 9 batch”

 

*tumben serentak semua berkunjung sore2*

 

18.00 : kasih hasil perhitungan, papi pamit pulang

 

18.20 : mau solat

sebelum wudhu lewat di lab tiba-tiba ada yang teriak “dini mana, dini sudah pulang belum?”

“belum, dini di lab..”

nah… ini adegan teraneh hari ini

“@$^&%#$#$@@@@@@@$#^&^()(&*^^$%^##”

(baca : manager tetangga marah-marah, berang, tak ada kesempatan membela diri)

 

*ada apa sih ini…*

 

18.25 : telepon papi, tanya ada apa, kenapa dengan produk itu sebetulnya

tes…tes…. testestestestes… (hujan deras di pipi)

menelepon tapi terdiam

“din…habis dimarahin yah… udah, jangan nangis… sabar yah…. biar besok pagi saya aja yang bilang”

 

*adegan ini aneh juga*

 

20.00 : absen keluar

makan soto depan kantor ditemani ibu peri yang tau dini habis dimarahin maminya. setengah soto sudah habis tiba-tiba 3 anak surabaya datang : “heyy…mbak dindong…” -__-’

 

dengarkan perbincangan mereka,

“mas, minta kerupuk”

“kerupuknya habis mas”

“sana goreng kerupuk dulu di mess”

“dia itu spesialisasi goreng kerupuk”

“aku spv penggaraman, ngasih garem maksudnya”

“kok kalian ngga masak hari ini, inventory control bermasalah?” tanyaku

“iya mbak… dia tuh bagian inventory control, bermasalah…. ojo ngisin-ngisini tho…”

“kmarin itu mbak, ceritanya masak capcay, nah.. tak lihat kok bahan bakunya cuma cukup untuk 1 batch… jadi yaudah tak abiskan dijadikan 1 batch…”

“ohh… jadi sekarang nge-toll?” tanyaku

“iya mbak, efek dari inventory kontrol bermaslah makan soto”

“tapi tau sendiri kan mbak, nge toll ki larang (mahal) jadi jangan sering-sering nge toll…”

hehehehe….

 

*aneh*

 

21.00 : pulang

masuk kamar, hmm,,, cape skali… masih mikir sbenernya aneh skali hari ini. Dini memang lebih suka ditegur kalau salah, tapi ah,,, aneh skali hari ini…. Dini kan sesuai yang diperintahkan komandan tertinggi…

 

buka fesbuk, lihat ada postingan note, tak ada prajurit salah, yang ada jendral yang keliru. Hmm… kalimat itu efeknya bolak balik,  ketika melihat atasan menyalahkan anak-anaknya, kalimat itu berlaku. Ketika dini menyalahkan asisten dini, kalimat itu pun berlaku. dan kali ini dini mau pakai, bukan dini yang salah…. itu komandan tertinggi yang memerintahkan,,, ngga mungkin dini ambil keputusan tanpa persetujuan atau ambil tindakan tanpa perintah atau kesepakatan….

 

*huhuhuhu….. gemesss…. sore yang aneh….

 

#ketikamantracantiksedangtakberfungsi, kemudian belajar dari pengalaman aneh hari itu…

 

 

note : tuuuuhhh… kalo mau marah, pikir ulang dulu… ntar nyesel ketika sadar kalimat riangan terucap tapi meluukai hati yang lain, ketika ternyata ia tak merasa salah karena jalan sesuai perintah, ketika ia yang sesungguhnya tak mengerti, katika ada masalah komunikasi. Jangan-jangan 5 menit katayang keluar lalu melukai membuat air mata orang lain mengalir 2 jam… atau luka dihatinya berbekas meskipun sembuh……

 

*merapal mantra cantik pagi ini, mencoba merasa semua baik-baik saja, dan berniat pasang senyum manis kalau nanti ketemu yang kemarin sore mendadak marah…

*merapalmantra* semoga cantik hari ini

by Dini Fitriastuti on Sunday, March 4, 2012 at 6:38am ·

Begitulah jika 2 wanita sedang berbincang melalui pesan dalam layar, isinya :

 

“semoga cantik hari ini… ” hmm… makna cantik yang diterjemahkan dengan ‘cantik’ oleh masing-masing jiwa, terkadang artinya cantik itu tidak jutek karena jutek denda 50 ribu(mahalll!!!), cantik itu tidak galak, cantik itu sabar, cantik itu bersemangat, cantik itu bermanfaat, cantik itu tak mengeluh, cantik itu tunduk,  dan definisi lainnya yang dirangkum dalam sebuah kata cantik….

 

maka sering sekali status *semogacantikhariini* menghiasi status bm ataupun fb. Sebetulnya, tak hanya itu yang ingin dituliskan, dari chatting singkat itu ingin nulisnya begini : “nama” cantik-shalihat-kuat-sabar-semangat-pintar, hmm… apalagi yah…. tapi diurungkan… kata seorang sahabat, ‘narsis ngga yah din kalau begitu? takutnya ntar ada yang protes…hehehe’ yah kata-kata itu memang mantra, mantra yang dirapalkan berulang sebagai bentuk latihan, latihan mengkondisikan jiwa mungkin tujuannya….

 

Semoga cantik hari ini yahhh…. :)

 

*untuk semua yang cantik dan penyuka yang cantik

dialog dengannya (lagi-lagi di walimahan)

by Dini Fitriastuti on Sunday, February 26, 2012 at 12:47pm ·

Hmmm… sengaja sejak 2 pekan lalu saya memintanya berkali-kali untuk menemani menghadiri walimahan itu… Bukan menemani sebetulnya tapi pergi bersama, karena saya tahu, dia pun pasti diundang. Aneh memang, sering berada di kota yang sama tapi sulit sekali berjumpa, jika diingat, bersama terakhirpun sepertinya diacara walimah sahabat baik kami…

Tak jumpa bukan artinya saya atau ia tak hadir dalam hari-hari kami, meski tak selalu saling memberi kabar, bagi saya ia seperti bintang, mungkin saja sedang tak tampak, tapi sesungguhnya ia ada disitu… setidaknya ada untuk saya…hehehe… dan dalam setiap perjumpaan pun selalu ada tingkah ajaibnya dan dialog yang saya rasa bisa dituliskan, kadang untuk mengingatkannya betapa ajaibnya ia… :D

pesan singkatnya masuk ” din, ngga beneran kandas hati kan?” hehehe… saya pun tersenyum, tertawa tepatnya… selalu menyenangkan bisa melihat orang lain menyempurnakan agamanya, apalagi seseorang yang kita sayangi, hormati dan ternyata lebih dari 10 tahun dikenal dan menjadi sahabat yang baik selama ini bukan?

dan pertemuan itu pun terjadi ketika menghadiri walimah bersama. menghadiri walimah mungkin hal biasa, tapi selalu menjadi tak biasa bila bersamanya… seperti bincang yang terjadi saat itu,

“din, di suatu buku dikatakan orang perancis itu lebih mudah tidak depresi dibanding orang manapun, makanya seni berkembang disana. Setiap keluarga yang memiliki anak membebaskan anaknya ingin menjadi apa, disana didikannya bukan didikan hitam dan putih. termasuk juga dalam membangun suatu hubungan, disana bukan saklek serius atau ngga, mereka sangat menikmati. Karena kadang ada hal-hal yang seperti itu…”

dan ini bagian yang saya suka dari perbincangan dengannya, ” kadang dalam hidup ada orang yang datang hanya untuk mengurai agar tampak jelas, kadang hanya untuk mengajarkan, mungkin juga unttuk menerangi atau menceriakan, dan itu  tidak selalu harus berujung pada sesuatu….”

iyah, saya menyepakati, terkadang saya pun merasa hal serupa, dipertemukan dengan banyak orang dan stelah kepergiannya saya tetap merasa tak pernah ada hal sia-sia mengenalnya, selalu ada  pembelajaran yang membekas. Yah walaupun tak selamanya baik, dari orang jahat pun saya belajar, setidaknya agar jangan bersikap demikian karena itu menyebalkan… :) Dengan demikian saya selalu berusaha untuk menjalin hubungan baik dengan orang lain, terlepas setelah apapun yang terjadi. Mengingat hal yang pernah terucap oleh seorang teman, dulu, ketika masih di jogja,” saya berusaha untuk menghilangkan marah, dendam dan perasaan ngga enak dengan cara memaafkan sebelum tidur, dengan demikian esok ketika bangun saya sudah tenang.”

Pernah suatu kali saya naik kereta bandung-jogja, bersama seorang dokter, doktor, penulis sekaligus ustad, dalam perjalanannya dia bercerita tentang hubungan obat cacing dan wanita. Tuturnya banyak sekali wanita yang sedemikian takutnya cacingan menyebabkan meminum obat cacing dengan sering, dan itu berefek pada sulit hamil. Mengapa itu terjadi, tuturnya karena karena bagian atas (pencernaan) bersih dari parasit, maka sistem pertahanan berkumpul di bagian bawah (serviks hingga tuba falopi), sehingga ketika ada zat asing masuk kesulitan menembus pertahanan itu. efeknya setelah itu adalah, saya cari bukunya di toko buku, bukunya kecil dan berisi pelajaran-pelajaran yang bisa diambil dari hewan dan dibahas secara ilmiah dengan gaya dongeng yang ringan. Hanya sekali ia hadir, tapi pembelajarannya banyak, setidaknya saya merasa tak waswas dengan mengkonsumsi obat cacing hanya setahun 2 kali.. :)

Demikian saya melihat orang-orang yang saya kenal selama perjalanan kehidupan, banyak yang datang dan pergi, banyak pula yang singgah lama, dan bagi saya hadir mereka tak pernah sia-sia. Selalu ada yang mereka ajarkan, minimal sebuah kata manis bernama pertemanan, perkenalan hingga persahabatan…

perbincangan pun berlanjut dengan berkirim pesan saat malam,

“jadi ke dokternya? apa cenah?”,

“teuing atuh, migren dan skarang hese sare”

“dikasih obat apa, diapain?”

“disuntik mreka ampe tilu kali”

??? sayapun kaget

dan pesan berikutnya muncul,

“maaf salah kirim, yang disuntik itu hamster saya…”

-__-’

tentang sebuah rindu… (edisi oleh-oleh)

by Dini Fitriastuti on Sunday, February 26, 2012 at 7:23am ·

tak selalu setiap hari atau setiap pagi, tapi dimasa-masa tertentu saya senang berbagi cerita. Sekedar bercerita tentang hari yang terlewati, tantang dinginnya pagi, tentang hujan, hingga tentang sebuah mimpi… Tak jarang tentang sebuah cita, bahkan tentang sebuah rasa. Tentang lelah, tentang rindu jiwa. Tentang semangat dan harap. Prinsipnya adalah berceritalah bila memiliki mimpi dan cita, siapa tahu malaikat mengamini, dan kelak ada yang mengingatkan ketika terlupa… Bahkan ketika lelahpun saya bercerita, pada orang yang saya rasa tepat, orang yang akan mengingatkan untuk taat, yang akan berkata muslim itu ada 2 pilihan, bersabar ataupun bersyukur. Bila ia sudah tak mampu menenangkan masing-masing jiwa yang saling dengar dan mendengarkan saling cerita dan menceritakan itu berkata “ingin umrah….”. Ungkapan itu hanya sebuah bentuk kerinduan, bukan semata disana merupakan tempat mustajab untuk berdoa sehingga memiliki list segudang pinta, atau tergiur akan janji keutamaan shalat yang berpahala 1000 hingga 100000 kali lipat kebaikannya… Bukan itu… Karena dibelahan bumi manapun Allah maha mendengar setiap doa bukan? Dan dibelahan bumi manapun adalah tempat bersujud yang baik… Ingin itu adalah bentuk sebuah rindu. Rindu, 1 kata yang bila diterjemahkan maknanya disini akan menjadi banyak maknanya… Dan kali ini pun biarkan saya bercerita tentang buah dari rindu itu….

 

tentang bulan

setiap melihat rembulan, baik purnama, sabit, setengah lingkaran, bagi saya merupakan benda langit istimewa. Dan sungguh, bulan diatas nabawi dini hari itu sangat cantiikkkkkk sekali… memaksaku untuk menatapnya lama, bahkan terus menoleh ke belakang kareena tak ingin lepas dari indahnya

 

tentang pasien

berawal di suatu sore ketika shalat berjamaah bersama seorang ibu yang serombongan dengan saya yang mungkin usianya 50-60 tahun. Sudah 4 tahun kakinya tidak bisa menekuk dan sudah menjalani berbagai terapi, sehingga ketika duduk tahiyat tak bisa sempurna posisinya. Di sampingnya seorang ibu dari pakistan, dengan bahasa tubuh menanyakan apakah itu sakit? dan segera saja dia buka kaki dan deker yang melingkar di kakinya. Mengambil air zamzam yang tersedia banyak di setiap pojokan. Berdoa, kemudian mengusapkan air zamzam tersebut, dan kejadian tersebut menarik perhatian seorang gadis Qatar di sebelahku. Segera ia mengambilkan segelas air zamzam dan segera berdoa, meniup-niupkannya ke dalam air dan menyerahkan pada ibu pakistan tersebut untuk diusapkan ke kaki sang ibu mencoba menekukkan kaki tersebut perlahan. Dan adegan haru itu terjadi ketika sang ibu dengan mata berbinar memeluk ibu pakistan dan berbisik lirih “terimakasih”.

 

adegan yang terjadi mungkin hanya sekitar sepermpat jam tersebut membuat saya terdiam cukup lama, mungkin seperempat jam juga. Adik saya, mencoba menganalisa, menurutnya itu adalah dislokasi, sedangkan selama proses terapi itu saya mengira-ngira obat apa yang sesuai… Kemudian dalam diam itu satu titik hati berkata, ‘din…. adakah pernah terlintas dalam hatimu untuk meyakin zamzam sebagai obat untuk penyakit orang-orang yang kau temui? jika tak pernah terlintas dan sedemikian angkuhnya dengan banggamu atas senyawa-senyawa sintesis maupun herbal yag dipelajari, dimanakah imanmu?’ dan saya pun tertunduk…. dan setelahnya saya pun menyaksikan ibu itu mampu thawaf dan sa’i dengan kakinya sendiri, bahkan tak hanya sekali… tapi berkali-kali….

 

tentang romantis

jika saya tak meninggalkan perangkat-perangkat yang menghubungkan saya dengan dunia maya mungkin akan banyak status berisi : Romantis adalah…. Kira-kira beginilah yang terlintas saat itu ketika melihat banyak hal disana,

 

Romantis adalah di usia senja duduk bersama di serambi masjid dan mengaji berdua

 

Romantis adalah sebagai bentuk tanggung jawabnya ia menjagamu saat berthawaf meski itu menyulitkan langkahnya

 

Romantis adalah keluar rumah bersama menyambut panggilan adzan untuk menunaikan kewajiban

 

Romantis adalah duduk melingkar bersama pasangan dan  anak-anak bada shalat kemudian berbagi cerita…

 

tentang panggilan

bagi saya selalu mengharukan ketika adzan semua toko-toko ditutup dan gerak langkah banyaaakkkk sekali manusia menuju satu pusat yang sama, dan ketika iqamah terlanjur dikumandangkan dan imam bertakbir maka bersolatlah mereka dibelahan bumi manapun, jalanan, trotoar, pelataran…. Hmm… bukankah memang demikian seharusnya?

 

tentang anak-anak kecil itu

selalu menggemaskan melihat anak-anak kecil disana… bahkan ada anak yang memaksa saya untuk menoleh dua kali untuk memastika itu adalah anak manusia, bukan boneka. Subhanallah…. cantik dan lucuuu sekali… entah sudah berapa banyak yang dicolek pipinya, hm… gemas. Ingin rasanya bawa pulang satu… #eh

Tak sedikit yang kemerah pipinya… hmm teringat dengan Aisyah, Humairah, mungkin dulu ia seperti itu, kemerahan pipinya… menggemaskan. Dan pada suatu hari anak kecil tersebut tak hanya menggemaskan, tetapi mengajarkan. Ia, gadis mungkin usia 9 tahun, berjilbab putih, berbaju belang, bercelana jeans dan seorang anak laki-laki usia 10 tahun, berkaos biru bercelana jeans, membagikan air zamzam dalam gelas ke setiap orang yang sedang duduk menanti shalat dimulai. Bila dihadapan orang tersebut ada botol minuman yang kosong maka diisikan hingga penuh. Membawa 2 gelas, diberika pada orang, kembali ke tempat air zamzam, kembali membawa 2 gelas, diberikan, demikian terus-menerus…. Saya tersenyum melihatnya dan berucap “Orangtuanya hebat…” dan mengalirlah doa kebaikan, “semoga benih kebaikan itu terjaga hingga kelak dewasa nanti….”

 

hmm… bagi saya mengharukan ketika seseorang mengingatkan, kepergian itu bukan karena apa-apa, bukan karena ada biaya, bukan karena kuliah libur, tapi memang karena Allah berkehendak mengundang menjadi tamunya… maka katakanlah “Labaik Allahumma labaik…”, tamu Allah, indah sekali panggilannya bukan…

 

terimakasih ya Allah sudah memenuhi sebuah rindu itu… dan ketika perpisahan terlantun “ijinkan agar kelak kembali kesini”

 

*sebuah catatan, hanya ingin berbagi

aku, lampu dan sebuah cerita pagi

by Dini Fitriastuti on Friday, February 10, 2012 at 5:06am ·

Ini adalah sebuah kisah di pagi hari…

 

Pagi yang dingin di sebuah wilayah bogor, pagi itu membuatku memasak air dengan menggunakan sebuah panci yang biasanya kupakai untuk memasak mie instan. Memasak air untuk mandi. Segera saja setelah air mendidih kumatikan kompor, dan bersiap mengambil ember ke kamar mandi. Entah mengapa lampu kamar mandi yang sesaat sebelumnya dipakai teman serumahku tiba-tiba mati. Saklarnya tak bekerja. Membuatku berpikir itu yang rusak saklar atau lampunya? Bukankah sebelumnya menyala… Aku ingat ada lampu cadangan, segera saja aku menaiki bak mandi berusaha mengganti lampu tersebut, hmm… tak menyala… kukembalikan ke lampu yang lama, tak menyala juga. Switch saklar dinyalakan-dimatikan-nyalakan kembali, tak menyala juga… Setelah berusaha sekian lama kuputuskan akan mandi dengan sisaan cahaya dari dapur yang menembus kamar mandi melalui jendelanya.. segera kurapikan lampu-lampu itu. Kembali mengambil ember untuk wadah air panas yang tadi ku masak. Dan dari sinilah cerita itu dimulai…

 

Pegangan yang berupa sebuah gagang panjang berbahan plastik tersebut patah, pancinya tepat masuk ke dalam ember dan air panas tersebut bercipratan menuju wajah… Gerak refleks pertamaku menuju wastafel, mencari air dan membasuh wajah…

 

Subhanallah tak ada luka bakar itu…. Dan bagiku saat itu lampu yang mendadak mati itu menjadi anugrah… Meskipun pada awalnya gemas, kenapa ada acara mendadak lampu mati saat din mau mandi dan berniat tak ingin terlambat ke kantor. Sebetulnya jika ingin cepat bisa saja dini memilih lilin, tak perlu berupaya untuk memperbaiki (jika memang yang dini lakukan bisa dibilang upaya memperbaiki). Tapi setelah air panas itu tumpah, din sadar, Allah maha baik… Baik dengan caraNya… Bukankah bila lampu itu tak mati, dini akan segera memindahkan air panas itu segera. Bahkan uap dari air yang baru mendidih saja panas dan suka meninggalkan bekas merah di kulit, apalagi jika bercipratan ke wajah dan mata bukan?

 

Hmmmm… termenung ku sesaat… lampu mati itu yang mengulur waktu, yang memberi kesempatan air itu menjadi dingin mengimbangi dengan suhu udara bogor coret yang saat itu sedang dingin…

 

Duhai Allah, engkau maha baik, meskipun memberi hal yang tak menyenangkan namun akhirnya ku mengerti itu untuk melindungi dari hal lain yang lebih buruk… 

 

Mungkin demikian cara kerjanya. terkadang manusia mengeluh , menangisi, menyesal atas sedikit hambatan yang terjadi, gangguan-gangguan yang seolah menghambat rencana awal yang telah rapih disusun… Terkadang lupa jika kita hidup dengan berbagai rencana yang kita buat namun sang pemilik Jiwa pun memilik rencana-rencana terbaik untuk kita…

 

Dan pagi itu pun aku melangkah dengan kaki yang ringan

Terukir sebuah senyuman untuk sebuah kejadian di pagi hari

Allah yang maha baik tak pernah salah,

memberi yang terbaik meski terkadang sulit dimengerti

Mendengar setiap doa meski hanya memberi disaat yang tepat dengan bentuk yang paling tepat

 

Dan  untuk itu, ingin ku ucapkan terimakasih ya Allah

untuk hidup yang begitu indah dan nyaris sempurna untukku

untuk nikmat yang tak henti kau berikan

untuk banyaknya orang baik di sekitarku

untuk segala cinta  dan sayang yang kuterima

atas didikan dan ilmu yang kau curahkan

untuk keluarga yang menjadikanku seperti sekarang

untuk sebuah rindu yang kumiliki

untuk sebuah rasa percay Engkau maha baik…

 

Dan entah mengapa tiba-tiba lampu itu kembali menyala…

Older entries »
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.